Komp. Perkantoran Marante, Jl. Poros Rantepao – Palopo KM.4, Lembang Tondon Kecamatan Tondon info@torajautarakab.go.id 085175359919

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) meluncurkan Garuda Spark Innovation Hub (GSIH) untuk memperluas akses talenta dan startup daerah terhadap pendampingan, investor, industri, serta pasar global. Jaringan yang menghubungkan 10 lokasi ini diarahkan untuk membuka kesempatan pengembangan inovasi di berbagai daerah.

Dalam peluncuran GSIH di BSD City, Tangerang Selatan, Rabu (26/08/2026), Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menekankan bahwa pembangunan ekosistem digital perlu memastikan talenta daerah memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

 

Yang kita pastikan adalah daerah-daerah juga punya akses. Akses terhadap inovasi, akses terhadap talenta, akses terhadap investor, akses terhadap industri, dan tentunya akses terhadap pasar. Jadi bukan hanya konektivitas secara fisik, tetapi konektivitas terhadap ekosistem,” kata Meutya.

 

Makassar termasuk dalam 10 lokasi hub GSIH bersama Jakarta, Batam, Medan, Bandung, Malang, Papua, Yogyakarta, Aceh, dan Surabaya. Jaringan ini menggunakan konsep *Hub and Spoke*, dengan spoke sebagai titik ekosistem daerah yang terhubung dengan hub.

 

Melalui hubungan tersebut, talenta, startup, dan inovasi lokal dapat masuk ke jejaring nasional. GSIH membuka kesempatan bagi pelaku inovasi daerah untuk mendapatkan pendampingan, bertemu investor, serta terhubung dengan mitra industri dan jejaring global.

 

Kementerian Komdigi menargetkan jaringan Garuda Spark berkembang hingga 500 titik, dengan tambahan 20 Garuda Spark pada 2026. Meutya menekankan bahwa perluasan jaringan perlu memastikan manfaatnya menjangkau lebih banyak daerah.

 

Target kita tidak hanya angka tapi juga pemerataannya. Kita ingin memastikan anak-anak muda di daerah tidak harus selalu pergi ke pusat untuk mendapatkan akses terhadap ekosistem inovasi,” tegas Meutya.

 

Rilis Komdigi menyebutkan bahwa sekitar 68 persen penduduk Indonesia pada 2030 akan berada pada usia produktif, yakni 15 sampai 64 tahun. Meutya memandang kelompok tersebut sebagai kekuatan yang perlu memperoleh ruang dan akses untuk mengambil peran dalam transformasi digital.

 

Pengembangan GSIH membawa prinsip “Locally Adapted, Nationally Coordinated, Globally Connected”. Potensi daerah dikembangkan sesuai kebutuhan dan karakteristik lokal, diperkuat melalui koordinasi serta jejaring nasional, kemudian dihubungkan dengan pasar dan ekosistem global.

 

Peluncuran GSIH ditandai dengan kerja sama Kementerian Komdigi bersama Sinar Mas Land, Indosat Ooredoo Hutchison, Ericsson, dan Nongsa Digital Park.

 

GSIH juga diarahkan sebagai gerbang global dua arah: membuka jalan bagi inovasi Indonesia ke pasar internasional sekaligus menghadirkan investasi, teknologi, dan jejaring global ke Indonesia. Melalui kemitraan yang semakin kuat dan setara, Meutya mengharapkan pelaku inovasi dalam negeri dapat bersaing di tingkat internasional.

 

Daya saing kita menjadi setara di tingkat global, startup kita dihargai di tingkat global, talenta-talenta kita sejajar dan sama tinggi dengan talenta-talenta di mancanegara,” ujar Meutya.

 

Meutya menempatkan pengembangan inovasi dalam negeri sebagai bagian dari tujuan membangun kemandirian Indonesia dalam transformasi digital.

 

Kita ingin memiliki inovasi-inovasi yang juga bisa lahir dari tangan anak-anak muda di tanah air. Tujuan akhirnya cukup besar yaitu membuat Indonesia mandiri dalam transformasi digitalnya,” ujarnya.

 

 

Dok: Humas Komdigi RI

Sumber: Siaran pers Kementerian Komunikasi dan Digital.

 

 

 

Diskominfo-SP - 2026