Komp. Perkantoran Marante, Jl. Poros Rantepao – Palopo KM.4, Lembang Tondon Kecamatan Tondon info@torajautarakab.go.id 085175359919

Dinas Perikanan, Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Dinas Lingkungan Hidup berkolaborasi dalam pelepasliaran 200 ekor ikan sidat yang dikenal masyarakat Toraja sebagai masapi ke Sungai Sa’dan di Eran Batu, Lembang Rinding Batu, Kecamatan Kesu’, Rabu (19/8/2026).

Kegiatan bertajuk “Peduli Lestarinya Lingkungan Hidup melalui Pelepasan Masapi ke Sungai Sa’dan” tersebut diinisiasi Yayasan Marampa’ Tallulolona Gereja Toraja bersama Pdt. Rasely Sinampe. Pelaksanaannya juga melibatkan Pemerintah Lembang Rinding Batu, Kepala Kampung Eran Batu, unsur Gereja Toraja, serta tokoh masyarakat setempat.

 

Pelepasliaran masapi menjadi bagian dari pesan kepedulian terhadap lingkungan dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut mendorong perhatian bersama terhadap keberadaan masapi sekaligus kelestarian ekosistem Sungai Sa’dan.

 

Pdt. Rasely Sinampe mengatakan benih masapi yang dilepas telah dipersiapkan selama satu tahun.

 

Momentum ini merupakan bentuk kepedulian kita terhadap kelestarian lingkungan hidup. Saya sudah menyiapkan benih ini selama satu tahun,” kata Rasely.

 

Rasely merupakan penerima penghargaan Kalpataru 2022 kategori Pembina Lingkungan. Ia dikenal melalui berbagai kegiatan pelestarian lingkungan yang dijalankan bersama Yayasan Marampa’ Tallulolona Gereja Toraja.

 

Masapi, Pengembara antara Sungai dan Laut

 

Masapi yang dilepasliarkan ke Sungai Sa’dan merupakan ikan sidat dari spesies Anguilla marmorata. Kajian genetik ikan sidat di Indonesia menunjukkan bahwa spesies ini memiliki persebaran luas di berbagai perairan Indonesia dan kawasan Indo-Pasifik. Kondisi tersebut membedakannya dari beberapa spesies sidat lain yang wilayah persebarannya lebih terbatas.

 

Sidat memiliki siklus hidup katadromus. Artinya, ikan ini tumbuh di sungai atau perairan tawar, tetapi berkembang biak di laut. Larvanya bergerak dari laut menuju pesisir, lalu sebagian memasuki sungai dan tumbuh selama bertahun-tahun sebelum kembali ke laut untuk memijah.

 

Pola perjalanan tersebut berkebalikan dengan salmon. Salmon lahir di sungai, tumbuh di laut, kemudian kembali ke sungai untuk berkembang biak. Pada sidat, laut menjadi tempat pemijahan, sedangkan sungai merupakan bagian dari habitat tumbuhnya.

 

Pada fase pertumbuhan, Anguilla marmorata banyak ditemukan di perairan yang relatif jernih, berarus, dan memiliki dasar kerikil hingga batu besar sebagai ruang berlindung. Bentang Sungai Sa’dan di Eran Batu memperlihatkan sebagian ciri fisik tersebut. Meski demikian, penampilan sungai belum cukup untuk menentukan kesesuaian habitat tanpa pengukuran suhu, oksigen terlarut, mutu air, kecepatan arus, ketersediaan pakan, dan kondisi ekologis lainnya.

 

Perjalanan masapi antara sungai dan laut juga bergantung pada keterhubungan aliran. Kajian yang diterbitkan jurnal *Freshwater Biology* pada 2025 tidak menemukan ikan diadromus pada delapan habitat hulu sistem Sungai Saddang di Toraja yang diteliti. Kajian tersebut mencatat bendung dan infrastruktur pembangkit listrik sebagai hambatan bagi migrasi ikan antara sungai dan laut. Temuan itu tidak menilai lokasi pelepasliaran di Eran Batu secara khusus, tetapi memperlihatkan tantangan ekologis yang perlu diperhatikan dalam pelestarian masapi.

 

Pelepasliaran 200 masapi di Eran Batu menambah perhatian terhadap keberadaan ikan tersebut di Sungai Sa’dan. Agar manfaatnya berkelanjutan, langkah ini dapat diikuti dengan pemantauan perkembangan ikan, pengukuran kualitas perairan, serta kajian terhadap keterhubungan jalur migrasinya.

 

 

Foto: Dok. Dinas Perikanan, Peternakan dan Kesehatan Hewan

 

 

Diskominfo-SP - 2026